Senin, 07 Juni 2010

Cinta atau Nafsu


Pemikiran barat telah lama menghegemoni kaum remaja islam, khususnya di Indonesia, memang tidak bisa dipungkiri lagi. Remaja islam di Indonesia khususnya perempuan bahkan dengan relanya melepaskan jilbabnya agar terkesan “gaul dan up to date”. Ada juga yang memang tetap mengenakan jilbab. Namun, kain yang mentupi tubuhnya ketat bahkan tipis seperti tak mengenakan apapun. Bukan itu saja, dalam hubungan laki-laki dan perempuan pun remaja islam mengadopsi mentah-mentah budaya berpacaran barat yang dalam pandang islam jelas keharamanya dan bahkan ada yang berpacaran dengan pasangannya beda agama yang muaranya adalah murtad dari agama Islam. Nau’udzubillah

Ada sebuah ungkapan yang sering kita dengar, apalagi dikalangan remaja,yakni “cinta datang dari mata turun kehati”. Ungkapan ini banyak digunakan oleh orang-orang yang dimabuk asmara, dari mulai berpacaran sampai dengan murtad demi mendapatkan orang yang dikejarnya tersebut. Benarkah ini cinta yang benar dalam Islam? Atau hanya nafsu birahi berkedok cinta sesaat yang membutakan para pelakunya?.

Allah swt berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Q.S. Al-Furqon 43.)

Cinta Dalam Islam
Persoalan cinta merupakan perasaan dan fitrah manusia dalam menyalurkan rasa kasih sayangnya. Cinta dalam islam adalah bagaimana kita menyalurkan rasa kasih sayang kita berdasarkan keimanan kepada Allah dan bersumber dari satu kebenaran, yakni Al-Qur’an dan Hadits, diluar itu semua adalah kesesatan. Islam mengajarkan kita untuk menyalurkan cinta pada tempatnya dan semua hal itu bertujuan untuk beribadah kepada Allah semata, tidak kepada yang lain. Cinta dalam Islam dibagi dalam tingkatan dan keutamaan :

1. Cinta kepada Allah
Tidak ada cinta yang paling tinggi dari hati kita selain cinta kepada Allah SWT. Cinta yang melebihi dari kecintaan kepada Allah merupakan suatu bentuk kesyirikan dan harus kita hindari sejauh mungkin.
Firman Allah SWT,“..(Walaupun demikian), ada juga di antara manusia yang mengambil selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah; sedang orang-orang yang beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah…” (Surah Al-Baqarah ayat : 165)

Memiliki cinta Allah seharusnya menjadi kebanggaan individu mukmin lantaran keagungan nilai dan ketulusan ihsan-Nya.Namun menjadi suatu kesukaran untuk meraih cinta Allah tanpa pengabdian yang menjurus tepat kepada-Nya. Cinta kepada Allah adalah syarat yang utama untuk meletakkan diri di dalam barisan pejuang-pejuang kalimah Allah SWT. Firman Allah SWT (yang bermaksud) :“..Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah dari ugamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Ia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir…” (Surah Al-Maidah, ayat 54)

2. Cinta Kepada Rasulullah SAW dan Para Anbiya’
Menjadi satu kewajiban kepada setiap yang mengaku dirinya sebagai muslim memberikan cintanya kepada Rasulullah dan para anbiya’. Karena kecintaan inilah, para sahabat sanggup bergadai nyawa menjadikan tubuh masing-masing sebagai perisai demi mempertahankan Rasulullah SAW. Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyebut :
Diriwayatkan daripada Anas r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: “Tiga perkara, jika terdapat di dalam diri seseorang maka dengan perkara itulah dia akan memperolehi kemanisan iman: Seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada selain keduanya, mencintai seorang hanya kerana Allah, tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, sebagaimana dia juga tidak suka dicampakkan ke dalam Neraka”.(Bukhari : no. 15, Muslim : no. 60, Tirmizi : no. 2548 Nasaie : no. 4901)
Sesungguhnya cinta terhadap baginda boleh dbuktikan melalui kepatuhan serta kecintaan terhadap sunnahnya. Oleh yang demikian, orang yang memandang hina malah mengejek-ngejek sunnah Rasulullah SAW tentunya tidak boleh dianggap sebagai orang yang menyintai Rasulullah SAW.
3. Cinta Sesama Mukmin
Interaksi kasih sayang sesama mukmin merupakan pembuluh utama untuk menyalurkan konsep persaudaraan yang begitu utuh. Cinta sesama mukmin inilah yang mengajar manusia supaya menyintai ibu bapaknya. Malah mengherdik ibu bapak yang berarti menguraikan talian cinta kepada keduanya merupakan dosa besar sebagaimana yang disebut di dalam satu hadis dikatakan:
“Ketika kami bersama Rasulullah s.a.w, baginda telah bersabda: Mahukah aku ceritakan kepada kamu sebesar-besar dosa besar: Ianya tiga perkara, iaitu mensyirikkan Allah, mengherdik kedua ibu bapa dan bersaksi palsu atau kata-kata palsu..”
(Hadis riwayat Bukhari, no. 5519, Muslim : no. 126)

Selain daripada cinta kepada kedua ibu bapak ini, Islam juga meletakkan cinta sesama mukmin yang beriman sebagai syarat kepada sebuah perkumpulan atau jemaah yang layak bersama Rasulullah SAW. Hayatilah betapa dalamnya maksud firman Allah SWT :
“..Nabi Muhammad (s.a.w) ialah Rasul Allah; dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir yang (memusuhi Islam), dan sebaiknya bersikap kasih sayang serta belas kasihan kasihan sesama sendiri (umat Islam)…"(QS. Al-Fath : 29)

Malah, Al-Quran sendiri menukilkan betapa pujian melangit yang diberikan oleh Allah SWT kepada golongan Ansar yang ternyata menyintai golongan Muhajirin dengan cinta suci yang berasaskan wahyu Ilahi. Malah dalam keadaan mereka berhajat sekalipun, keutamaan tetap diberikan kepada saudara-saudara mereka dari golongn Muhajirin. Firman Allah SWT yang bermaksud :
“..Dan orang-orang (Ansar) yang mendiami negeri (Madinah) serta beriman sebelum mereka, mengasihi orang-orang yang berhijrah ke negeri mereka, dan tidak ada pula dalam hati mereka perasaan berhajatkan apa yang telah diberi kepada orang-orang yang berhijrah itu; dan mereka juga mengutamakan orang-orang yang berhijrah itu lebih daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan dan amat berhajat. ..”(QS. Al-Hasyr : 9)

Bukankah ini yang telah diajar oleh Islam? Maka di tengah-tengah kecaman keganasan yang dilemparkan kepada Islam pada hari ini, kenapa tidak masyarakat antarabangsa malah umat Islam sendiri melihat bahawa betapa agungnya unsur kasih sayang dan cinta yang terdapat di dalam Islam? Namun, betapa agungnya cinta di dalam Islam, begitu jualah agungnya penjagaan Islam sendiri terhadap umatnya agar sama sekali tidak mencemarkan kesucian cinta dengan kekotoran nafsu.
Itulah cinta di dalam Islam. Ia haruslah diasaskan atas dasar keimanan kepada Allah. Alangkah ruginya cinta yang lari dari landasan iman. Akan hanyutlah jiwa-jiwa yang menyedekahkan dirinya untuk diperlakukan oleh ‘syaitan cinta’ sewenangnya-wenangnya. (www. rifafreedom.wordpress.com. 22/9/2008).

Nafsu Berkedok Cinta
Cinta yang diagung-agungkan oleh sebagian remaja yang mengaku dirinya muslim tetapi menghalalkan hubungan laki dan perempuan bukan mahram telah jelas keharamannya. Lebih parah lagi, ada sebagian yang rela murtad akibat nafsunya terhadap pasangannya yang non muslim.
Inilah Cinta sesaat yang sebenarnya hanyalah nafsu birahi. Nafsu inilah yang banyak menjebak kaum remaja muslim karena cinta palsu ini dihiasi oleh syetan dengan bingkai keindahan sehingga dengan mudahnya terpedaya. Sebagaimana firman Allah,
“…Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka. Lalu ia menghalangi mereka dari Jalan (Allah)…” (QS. Al’Ankabuut: 38)

Ibnul Qayyim berkata “Sesungguhnya hawa nafsu itu adalah suatu larangan yg dengannya sekeliling neraka Jahannam dikitari. Maka barang siapa terjerumus ke dalam hawa nafsu maka ia terjerumus kedalam api Jahannam”

Nyatalah kesesatan mereka yang telah terjerumus kedalam hawa nafsunya tersebut dengan mengatasnamakan cinta, padahal itu bukanlah cinta yang sebenarnya. Mereka telah mendahulukan nafsunya terhadap mahluk daripada cinta dan keimanannya kepada Allah swt.

Amirul Mukminm Ali ra berkata: “Sesungguhnya yang paling aku kuatirkan pada kalian adalah dua hal, yaitu taat hawa nafsu dan angan-angan panjang.”

Maka dari itu, sebagai seorang yang mengaku muslim janganlah kita mengagung-agungkan pemahaman barat mengenai cinta dan hubungan haram lelaki-perempuan itu. Dengan perbuatan keji tersebut kita telah jatuh dalam kesesatan dan kenistaan yang jelas-jelas ada dihadapan kita. Seolah-olah mereka berkata “Demi mendapatkan cinta si Fulan/fulanah aku rela masuk neraka…”. Na’udzubillah

Relakah kita menanggalkan keimanan kita?, hanya untuk memuaskan obsesi kita mendapatkan si fulan/fulanah untuk nikmat dunia yang sesaat? Dan begitu saja membuang syurga yang dijanjikan oleh Allah?
Firman Allah swt: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”(Q.S. An-Nazia’at : 40- 41.)


Kerasnya Hati
Perbuatan dosa yang dilakukan berulang-ulang akan membuat pelakunya menganggap biasa dosa tersebut, termasuk berpacaran atau bahkan murtad, dan menjadikan hati yang dimilikinya tidak mempunyai rasa sensitif lagi, keras dan membatu terhadap perbuatan dosa. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati bangsa Yahudi karena perbuatannya yang selalu berbuat dosa dan melanggar janji melalui firmanNya:
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya.” (QS.Al-Maaidah: 13)
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS.Al-Baqarah: 74)

Pentingnya Menahan Pandangan
As-Syauqi pernah berkata :
“Cinta syahwat ini bermula dengan mainan mata yang tidak mempunyai sempadannya, ia kemudiannya diikuti dengan sahutan suara dan saling berhubung. Sampai peringkat tersebut, amat sukar sekali bagi pasangan cinta untuk tidak bertemu sekaligus mendekatkan diri kepada aksi yang lebih hebat”. Oleh kerana itulah, Islam dalam menjaga kesucian cinta dari pencemaran oleh unsur-unsur nafsu meletakkan batasan pandangan seorang muslim dan muslimah. Firman Allah SWT yang bermaksud :
“..Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan…” (Surah An-Nuur, ayat 30).

Pernikahan adalah jalan yang terbaik
Islam telah memberi solusi atas permasalah hubungan laki dan perempuan ini. Hanya dengan menikahlah kita dapat terhindar dari ribuan kemaksiatan yang tehampar didepan kita. Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
“..Wahai golongan pemuda! Sesiapa di antara kamu yang telah mempunyai keupayaan iaitu zahir dan batin untuk berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin. Sesungguhnya perkahwinan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Maka sesiapa yang tidak berkemampuan, hendaklah dia berpuasa kerana puasa itu dapat mengawal iaitu benteng nafsu..”. (Bukhari : no. 1772, Muslim : no. 2485)

Namun, bukanlah dengan pernikahan beda agama, atau bahkan menjadi murtad disebabkan nafsu kita untuk mendapatkan si fulan/fulanah.
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu.min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”(Q.S. Al-Baqarah: 221)

Karena Allah SWT memahami betul perasaan manusia yang lemah ini, yang gampang terpengaruhi oleh ketampanan lelaki dan kecantikan perempuan. Sebagaimana firman Allah:
”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imran: 14)

Tetapi, janganlah kita sebagai seorang Muslim mudah terpengaruh oleh orang-orang yang telah lebih dulu melakukan pernikahan beda agama atau bahkan murtad dari agama Allah.
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS.Al Hadiid: 20)

Islam adalah agama yang sempurna. Semua solusi dari permasalah umat telah ada didalam Islam termasuk urusan yang satu ini. Untuk itu janganlah sekali-kali kita berkeinginan untuk lari dari kebenaran agama yang telah Allah turunkan melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,“Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.“Artinya : Demi yang diri Muhammad ada di tangan Allah, tidaklah mendengar seorang dari ummat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya Muhammad, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang diutus dengannya (Islam), niscaya dia termasuk penghuni Neraka.”
( HR. Muslim (I/134, no. 153), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)

Wallahu’alam.
Al-Faqier

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar